header-image

Babinsa Muntilan Hadiri Mujahadah Birrul Walidain

Kodim 0705/Magelang·11 Oct 2017·09:14

Magelang (Pendimmgl) — Anggota Koramil 14 Muntilan Kodim 0705/Magelang  menghadiri pengajian akbar dalam rangka Mujahadah Birrul Walidin bertempat di Komplek Sekolah MI karaharjan Gunung Pring Kecamatan Muntilan, Selasa (10/10).

Pengajian yang menampilkan pembicara KH Anwar Zahid dari Bojonegoro Jawa Timur tersebut dihadiri oleh Bupati Magelang Zaenal Arifin, S.I.P, Muspika Muntilan dan ribuan jamaah.

Dalam ceramahnya, KH Anwar Zahid mengatakan seorang anak, meskipun telah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada kedua orang tuanya. Kewajiban ini tidaklah gugur bila seseorang telah berkeluarga. Namun sangat disayangkan, betapa banyak orang yang sudah berkeluarga lalu mereka meninggalkan kewajiban ini. Mengingat pentingnya masalah berbakti kepada kedua orang tua, maka masalah ini perlu dikaji secara khusus.

Jalan yang haq dalam menggapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla melalui orang tua adalah birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya.

Selain itu, menurut KH Anwar Zahid  yang dimaksud ihsan dalam pembahasan ini adalah berbakti kepada kedua orang tua, yaitu menyampaikan setiap kebaikan kepada keduanya semampu kita dan bila memungkinkan mencegah gangguan kepada keduanya. Menurut Ibnu ‘Athiyah, kita juga wajib mentaati keduanya dalam hal-hal yang mubah (yang diperbolehkan syari’at), dan harus mengikuti apa-apa yang diperintahkan keduanya dan menjauhi apa-apa yang dilarang (selama tidak melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa Jalla).

Sedangkan ‘uququl walidain adalah gangguan yang ditimbulkan seorang anak terhadap keduanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Contoh gangguan berupa perkataan, yaitu mengucapkan “ah” atau “cis”, berkata dengan kalimat yang keras atau menyakitkan hati, menggertak, mencaci maki dan lain-lain. Sedangkan yang berupa perbuatan adalah berlaku kasar, seperti memukul dengan tangan atau kaki bila orang tua menginginkan sesuatu atau menyuruh untuk memenuhi keinginannya, membenci, tidak mempedulikan, tidak bersilaturrahim, atau tidak memberi nafkah kepada kedua orang tuanya yang miskin.

Terlihat para jamaah dengan antusias dan khidmad mendengarkan pengajian yang diberikan oleh kyai dari Jawa Timur itu. (hombing)

Informasi Prajurit